Halaman

    Social Items

AKU

Wahyu Laksono Aku hanyalah manusia biasa, 
tempat di mana musim sering berganti 
antara puncak yang tinggi dan palung yang sunyi. 
Jangan datang jika kau hanya mencintai benderangku saja. 
Carilah aku saat aku meredup, 
di saat ekspektasi dunia terasa mencekik leherku. 
Aku mencari jiwa yang sudi menetap 
saat aku tak punya apa-apa untuk dipamerkan, 
selain ketulusan yang tersisa di balik kekurangan.

Jadikan aku satu-satunya alamat, 
bukan sekadar persinggahan 
yang kau bandingkan dengan rumah-rumah lain di sepanjang jalan. 
Cintailah aku dengan secukupnya
—yang artinya, 
tidak kurang untuk membuatku merasa asing, 
dan tidak lebih hingga membuatku terbebani oleh bayang-bayang kesempurnaan.

Aku telah meletakkan kamus—
yang dulu kugunakan untuk menerjemahkan senyummu. 
Kini, aku tak lagi ingin menjadi ahli tafsir 
atas sorot matamu yang barangkali punya banyak alamat. 
Bagiku, 
jika namaku tak kau sebut dengan tegas, 
maka aku hanyalah penonton di barisan paling belakang
—diam dan tak lagi menganggapnya istimewa.

 
Di antara sekian banyak arah yang kau tuju, 
aku memilih untuk tak lagi berdiri di persimpangan jalan, 
menunggumu menoleh. 
Aku sudah lelah menebak 
apakah aku adalah tujuan 
atau, 
sekadar persinggahan yang tak sengaja kau sapa.

Dulu, 
aku gemar menjahit perhatianmu 
menjadi sepotong rasa percaya yang terlalu besar. 
Namun sekarang, 
aku membiarkan segalanya apa adanya. 
Tak ada lagi 'mungkin' yang ku rawat, 
tak ada lagi 'sepertinya' yang ku jaga. 
Jika aku bukan satu-satunya 
yang kau cari di tengah keramaian, 
maka biarlah aku menjadi asing yang paling terang diantaranya. 

Aku berjalan dengan keyakinan
bahwa di suatu tempat, 
di waktu yang paling tepat, 
ada seseorang yang takkan membiarkanku menebak-nebak. 
Seseorang yang akan memeluk utuhku dengan rasa syukur, 
tanpa tapi, dan tanpa ragu. 

Aku percaya, akan tiba saatnya 
aku ditemukan oleh jiwa 
yang melihat kehadiranku sebagai anugerah, 
bukan sekadar pilihan di antara keramaian. 
Seseorang yang menerima 
setiap retak dan utuhku sebagai satu kesatuan yang patut ia jaga. 

Aku memilih percaya bahwa 
akan ada seseorang yang datang membawa ketenangan, 
yang mencintaiku dengan cara yang paling sederhana namun nyata. 
Baginya, memilikiku adalah sebuah keberuntungan 
yang akan selalu ia syukuri disetiap harinya. 

Aku berhenti mengejar bayang yang tak pasti, 
demi melapangkan jalan bagi ia yang akan datang dengan kepastian. 
Seseorang yang akan menerimaku sepenuhnya, 
seolah aku adalah jawaban yang selama ini ia semogakan. 

Tidak ada komentar